Pulau Rambut: Kuliah Lapangan terakhir sebelum Pandemi
Pulau Rambut
Setelah melalui kuang lebih 3 bulan perkuliahan di 1 semester, akhirnya aku dan teman-teman bisa menikmati kuliah lapangan juga, bisa dibilang sekalian refreshing sehabis dihantam sama tuga-tugas yang menumpuk. Mata kuliah Ekologi Hutan Tropika di bawah bimbingan Ibu Nurul waktu itu akhirnya ngadain kuliah lapangan atau praktikum lapangan di akhir semester, tepatnya di tanggal 21 Desember 2019.
Persiapan Kuliah Lapangan
Kurang
lebih seperti inilah jadwal praklap kita nanti. Tidak sabar, rasanya, udah lama
nggak main air, really need vita-sea-min hehe.
Hari - H
Tepat pukul 5 pagi, aku dan temanku mulai
berangkat ke stasiun terdekat, yaitu stasiun Pondok Cina. Kita naik kereta
(KRL) ke arah jatinegara atau angke terus turun di Stasiun Duri buat
ngelanjutin perjalanan lagi ke stasiun Tangerang, tempat drop point yang
sudah disepakati di diskusi kemarin. Perjalanan waktu itu lumayan lama dan
panjang banget, karena dari stasiun Pondok Cina ke stasiun Tangerang emang
jaraknya lumayan jauh. Akhirnya, kurang lebih jam setengah 8 pagi waktu itu, kita sampai juga di stasiun Tangerang, untuk pertama kalinya juga, menginjakkan kaki di stasiun paling ujung ini. Kita pun juga udah ketemu sama teman-teman
lainnya, ternyata sudah pada ramai, dan kita termasuk rombongan yang datang
belakangan, padahal jam 5 kita udah jalan lohh, semangat banget nggak tuh, ternyata
memang teman-teman yang lain juga punya semangat yang lebih dari kita hehe.
Sesuai rundown acara, ternyata kita masih harus
ngelanjutin perjalanan ke Tanjung Pasir. Waktu itu kita mutusin buat naik go car atau grab car, karena ada 13 orang waktu itu, akhirnya kita ngebagi
rombongan jadi 2 kelompok. Kelompok 1 ada Ibu Nurul, anak Ibu Nurul (lupa Namanya
hehe), Ayu, Brian, Bhisma, mbak Geno, dan mbak Ulie. Kalo kelompok 2 ada Aku, mas
Imin, Riany, Fira, Putri, dan Nia. Akhirnya kita berangkat ke Tanjung pasir
dengan 2 mobil yang berbeda. Let’s gooooo!
Perjalanan dari stasiun Tangerang ke Tanjung
Pasir waktu itu kurang lebih 1 jam. Jalannya lumayan ramai dan agak sedikit sempit sih
menurutku, karena emang mau menuju ke daerah per-pantai an, jadi emang jalannya
kayak begitu, tapi tetap suasananya selalu seru, karena bareng sama
teman-teman. Oiya, jangan lupa buat bawa makanan dan minuman secukupnya, karena
lumayan banget bisa jadi cemilan selama perjalanan bareng teman-teman.
Sesampainya di Tanjung Pasir, kita mulai naik
kapal yang lumayan agak besar. Waktu itu ternyata kita nggak sendirian, ada
rombongan lain dari universitas/ instansi lain yang rata-rata isinya cowok semua, jadi
waktu itu kapalnya lumayan rame tapi nggak padet juga, dan yang pastinya seru
banget.
Sesampainya di Pulau Rambut, kita pun mulai disambut sama pulau sepi dan benar-benar masih seperti hutan. Rasanya nggak percaya aja, masih ada pemandangan seindah dan hutan yang selebat ini di sekitaran Jakarta. FYI, Pulau rambut merupakan salah satu pulau yang termasuk dari Kepulauan Seribu, dan juga masih termasuk wilayah kabupaten Kepulauan Seribu provinsi DKI Jakarta. Pulau ini termasuk luas, kira-kira mencapai 45 hektar dan 80% masih hutan banget (menurutku hehe).
Daya tarik dari pulau ini sendiri
adalah Burung, terutaman jenis burung air, benar-benar banyak banget jenis
burung air bertebaran di kawasan pulau ini. Selain burung, pulau ini
juga terkenal dengan terumbu karangnya, ada juga beberapa jenis ekositem jenis
tumbuhan bakau dan hutan pantai, kawasan pulau rambut juga merupakan kawasan
habitat terakhir burung yang waktu itu pernah jadi maskot DKI Jakarta, yaitu
Elang Bondol (Haliaetus indus), untuk lebih jelas lagi tentang
penjelasan dari kawasan Pulau Rambut ini, kalian bisa kunjungi websitenya BKSDA
Jakarta, disini: https://bksdadki.com/page/kawasan_dki/Suaka-Margasatwa-Pulau-Rambut
Pulau rambut benar-benar kawasan
yang masih alam banget menurutku, airnya juga masih jernih, nggak kebanyakan
seperti pulau-pulau di sekitaran Jakarta yang udah banyak tercemar.
Oiya, sebelum datang kesini, pastikan untuk membawa tempat sampah sendiri dan
juga sekalian bawa pulang, jangan suka buang-buang sampah sembarangan ya,
mulai sadar aja buat jaga lingkungan dan alam !
Menaranya cukup tinggi juga, dan ada beberapa bagian yang mungkin emang udah agak goyah, tapi tetap aja menaranya ngebantu banget buat para pendatang untuk ngamatain keindahan Pulau Rambut, terutama burungnya, dari atas ketinggian kurang lebih 15 meter. Naik ke Menara pengawas juga nggak bisa banyak orang, jadi kita harus bersabar menunggu giliran dan juga naiknya harus secara pelan-pelan. Oiya, jangan lupa untuk bawa kamera dan teropong waktu ke sini, karena bisa jadi bonus kalian buat ngedapetin foto salah satu satwa yang ada di Pulau Rambut, terutama burung air.
Ketika sudah mulai siang, akhirnya kita memutuskan untuk pulang, kita pun mulai prepare buat pulang, dan tidak lupa untuk membawa sampah ikut pulang juga, lebih bagus lagi kalau nggak bawa sampah sih. Sebelum pulang, kita sedikit membuat kenangan di Pulau yang masih asri ini dengan foto bareng tentunya, buat kenang-kenangan! Selalu jangan lupa untuk membuat kenangan yah!
Terima kasih untuk Pulau Rambut! selain telah memberikan banyak pengetahuan tentang kekayaan ekosistem yang masih nyata, Pulau Rambut juga sudah memberikan cucian mata saya dengan hal yang indah-indah, setelah melalui semester yang lumayan berat. Semoga bisa ada kesempatan lagi ke Pulau Rambut bareng teman-teman!
So, jadi
kapan kita bisa praklap lagi ?!



pengalaman yang menyenangkan dan menarikk
BalasHapus